Terimakasih atas kunjungan anda
Tampilkan postingan dengan label jepara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jepara. Tampilkan semua postingan

Harga Kopi bubuk khas Jepara

Posted by jepara kopi 0 komentar
Kami menjual kopi bubuk murni tanpa campuran. Khusus bagi penikmat kopi sejati. Rasakan bedanya! Kopi dengan kualitas istimewa dari perkebunan kopi Lereng Gunung Muria di tangan kami sangrai dengan metode leluhur, memaksimalkan aroma dan kelezatan kopi murni.
Kami menyediakan kopi bubuk murni khas jepara 100% murni dijamin. Melayani pengiriman ke seluruh Indonesia.
Kopi Bubuk Murni Arabika : 115.000,- per kilogram
Kopi Bubuk Murni Robusta : 105.000,- per kilogram
Kopi Bubuk Murni Liberika (kopi nangka) : 130.000,- per kilogram
Berminat
Hubungi Kami
082243567855
Minimal pemesanan mulai dari 1 kg sampai 100 ton kami layani.
“Dijamin kopi disangrai dan digiling di hari pengiriman" 
"Saatnya penikmat kopi sejati merasakan kenikmatan kopi murni sejati.”

Untuk agen/grosir harga tidak sama seperti daftar harga yang tertulis diatas

Baca Selengkapnya ....

Mengenalkan produk jepara kepada dunia

Posted by jepara kopi 0 komentar
TRUS KARYA TATANING BUMI Itulah semboyan kota jepara

Niat dan tekat saya ingin mengenalkan produk jepara kepada dunia akan selalu saya upayakan sebaik mungkin. salah satu bentuk upaya saya adalah lewat blog sederhana ini.
Harapan saya, lewat blog yang saya buat ini semoga bisa lebih mengenalkan produk-produk jepara kepada dunia. karena selama ini produk jepara yang dikenel oleh dunia hanya produksi meubel dan seni ukir. padahal selain meubel dan ukiran masih banyak produk jepara yang siap bersaing di pasar dunia. seperti kain tenun ikat, kerajinan monel, kerajinan genteng, seni patung kayu, kopi khas jepara, konveksi dan mungkin masih ada lagi yang belum saya ketahui karena keterbatasan pengetahuan saya. Dari pengetahuan saya saat ini sebenarnya jepara berpotensi bisa menghasilkan biji kopi yang mempunyai kuwalitas sangat baik, namun sayangnya potensi ini tidak bisa dimaksimalkan karena keterbatasan ilmu pengetahuan dalam pengelolaan pohon kopi mulai dari pemilihan bibit, perawatan dan pemanenan. Permasalahan kopi di Kecamatan Keling, khususnya sentra penghasil kopi di Desa Damarwulan dan Tempur, Kabupaten Jepara yang diangkat pada penelitian ini bermula dari tingginya minat petani menanam kopi, khususnya kopi Robusta di sisi barat laut, kawasan lereng Gunung Muria. Menurut Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Jepara (2013), luas tanam kopi di Kabupaten Jepara tahun 2012 tercatat sebesar 17.926,8 ha dengan produksi sebanyak 8.374,1 ton. Sedang jumlah keluarga petani yang mengusahakan mencapai 42.134 KK (BPS Kantor Jepara, 2011). Lebih dari 60% perkebunan kopi di Kabupaten Jepara ini terletak di lereng gunung Muria mulai dari sisi utara sampai barat. Sejarah perkembangan tanaman kopi di Kabupaten Jepara sangat panjang. Konon, pengusahaannya telah dimulai sejak jaman Belanda. Tanaman-tanaman kopi di beberapa kawasan telah menua dan dibudidayakan secara tradisional, tanpa pemangkasan yang intensif, sehingga banyak yang pohonnya setinggi dan sebesar pohon mangga. Namun di beberapa lokasi, telah dilakukan peremajaan, dengan varietas yang lebih produktif dengan umur genjah. Salah satu sentrarehabilitasi kopi ini adalah Desa Damarwulan dan Tempur, dengan jenis kopi Robusta, yang dinilai lebih tahan terhadap serangan penyakit, khususnya jamur. Peremajaan kopi di kedua desa tersebut dimulai sejak tahun 2008, dengan gerakan yang lebih masif sejak tahun 2010. Saat ini (2014) hasil peremajaan kopi tersebut telah membuahkan hasil. Akibatnya, masalah klasik pun muncul; petani mulai kesulitan memasarkan hasil kopinya. Sementara struktur pasar belum tertata, para petani menjual produk-produk kopi yang dihasilkan tanpa melalui pemisahan biji menurut kelas-kelasnya. Pembelinya pun masih didominasi pedagang-pedagang tradisional, dengan serapan pasar per pedagang yang relatif kecil. Menurut pengakuan petani, sebagian besar para pedagang tersebut memasarkan produk-produk kopi mereka ke pasar-pasar tradisional di lingkungan Kabupaten Jepara dan sekitarnya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pemasaran produk-produk kopi yang dihasilkan masih didominasi oleh pasar-pasar “basah”. Pemasaran ke rantai-rantai pasar yang lebih kering, apalagi sampai melalui kontrak pembelian dengan perusahaan tertentu, belum terbentuk. Salah satu faktornya adalah karena produknya yang masih masif, tanpa klasifikasi mutu, sehingga mutu produk sangat beragam, seakan tidak memiliki standard apapun. Apabila hendak melakukan klasifikasi mutu dengan standard tertentu, maka pihak pembeli harus melakukan pemisahan sendiri mutu kopi tersebut, secara intensif. Di Desa Damarwulan, sebagian petani berusaha mengolah sementara produk kopi mereka, menjadi produk-produk kopi olahan, seperti kopi bubuk, kopi susu, kopi luwak, kopi bubuk dengan rempah-rempah, dan sejenisnya. Sekalipun produk-produk olahan ini memiliki karakteristik yang spesifik, dengan nilai jual yang relatif tinggi, tetapi penyerapan pasar dari pengolahan ini tidak signifikan dibanding biji kopi yang dihasilkan. Upaya-upaya pemasaran melalui pengolahan ini juga menghadapi persaingan dengan kopi yang dihasilkan oleh desa tetangganya, yaitu kopi dari Desa Tempur, yang sudah lebih dulu populer di masyarakat, dengan branding Kopi Tempur. Kopi yang dijual petani adalah kopi ose kering (green bean), secara masif (bulk) pada berbagai macam ukuran, warna, keutuhan, tanpa ada keseragaman produk. Demikian juga dengan keseragaman kadar airnya,yang seharusnya juga merupakan masalah paling serius untuk produk masif yang dihasilkan di daerah dengan altitusi tinggi dengan intensitas sinar matahari yang lebih rendah ini. Karena seluruh produk kopi green bean yang dihasilkan dibeli oleh pasar, tanpa melalui proses sortasi dan grading, maka harga yang diterima petani relatif rendah, yaitu setara dengan harga kopi Mutu III.Akibat lebih jauh, karena dipasarkan tanpa adanya sortasi mutu, maka keunggulan-keunggulan spesifik kopi Damarwulan, baik warna, rasa, aroma, krema, maupun kandungan kafeinnyatidak dapat ditampilkan secara utuh pada saat disajikan, baik sebagai kopi bubuk maupun kopi seduhan. Desa Damarwulan dan Tempur terletak di lereng sebelah barat daya deretan Gunung Muria, dari Puncak Rahtawu, pada ketinggian 500 – 600 m. d.p.l. Gunung Muria sendiri merupakan kelompok gunung api sekunder yang sudah tidak aktif. Disamping batu-batuan vulkanik yang tidak mudah melapuk, batuan induk tanah di Desa Damarwulan terdiri atas kapur dengan agregat pasir dan debu vulkanik yang subur, kaya kalsium, magnesium dan besi. Oleh sebab itu, kopi dari Desa Damarwulan ini seharusnya memiliki mutu yang tinggi, karena ketersediaan unsur hara dan mineral. Para petani terkesan tidak menyadari bahwa rendahnya harga jual kopi yang selama ini mereka terima, adalah sebagai akibat dari perilaku usaha tani mereka yang tidak melakukan seleksi kopi-kopi mereka sebelum panen. Pola-pola pemasaran yang mengandalkan pada pembeli dari pedagang-pedagang setempat, yang datang ke desa mereka dengan membeli beberapa kg, telah menjadi kebiasaan secara turun-temurun. Jenis kopi yang mereka beli juga kopi masif, yang campur aduk berbagai ukuran, warna, dan tingkat kekeringan. Dengan siklus sosial-ekonomi seperti ini, maka para petani (dan para pedagang) merasa bahwa apa yang mereka lakukan selama ini, adalah satu-satunya cara dalam usahatani kopi. Kondisi sosial ekonomi petani kopi, rendahnya mutu produk kopi yang diperkuat dengan lemahnya rantai pasar di Desa Damarwulan dan Tempur ini perlu diangkat melalui suatu penelitian ilmiah dengan parameter dan indikator-indikator terukur. Pemerintah telah menetapkan standard mutu kopi dengan standard nasional, yaitu dengan SNI No. 01-2907-2008.
Di dalam SNI ini, mutu biji kopi dikelompokkan menjadi tiga tingkat mutu, yaitu Mutu I, Mutu II, dan Mutu III. Syarat dan batasan untuk setiap kelompok mutu telah tercantum dalam SNI tersebut, demikian pula dengan mekanisme pengujian, penilaian, dan prosedur-prosedur pelaksanaannya, baik grading maupun sortasinya. Dengan demikian, SNI tersebut dapat diaplikasikan sebagai instrumen penentuan mutu biji kopi oleh petani di Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara. Dengan grading maupun sortasi ini, maka diharapkan nilai jual kopi yang dihasilkan petani Kabupaten Jepara ini akan lebih tinggi, sehingga kesejahteraan petani juga akan meningkat.

Baca Selengkapnya ....

Tempat Wisata di Jepara Paling Menarik

Posted by jepara kopi 0 komentar

Inilah Pesona 8 Tempat Wisata di Jepara Paling Menarik

 menawarkan Anda beragam keindahan alam dan pesona wisata pantai yang menarik untuk dikunjungi. Daerah yang terkenal sebagai salah satu sentra penghasil ukiran kayu di Indonesia ini juga merupakan tempat kelahiran seorang pahlawan nasional Indonesia yang terkenal dengan gagasan emansipasi wanita Indonesia, yakni R.A. Kartini.

Beberapa landmark menarik di Jepara ada yang berhubungan dengan RA. Kartini, misalnya museum dan Pantai Kartini. Selain itu, salah satu tempat wisata di Jepara yang terkenal hingga ke mancanegara adalah Kepulauan Karimunjawa, sebuah destinasi wisata bahari paling memikat di Jawa Tengah. Seperti diketahui, provinsi Jawa Tengah memiliki berbagai destinasi yang mengagumkan,
Letak geografisnya yang berada di posisi utara Pulau Jawa membuat Jepara memiliki sejumlah destinasi wisata pantai yang menarik.

Tempat Wisata di Jepara

Berikut ini adalah sejumlah landmark dan tempat wisata di Jepara paling menarik dan patut Anda kunjungi

1. Taman Nasional Karimunjawa

Inilah gugusan kepulauan sebanyak 27 pulau yang terletak di Laut Jawa, berjarak 83 km di arah barat laut kota Jepara, memiliki luas area sebesar 107.225 ha, dan adalah sebuah cagar alam laut yang dilindungi dan kini disebut sebagai Taman Nasional Karimunjawa. Karimunjawa adalah sebuah destinasi wisata yang populer di Indonesia, adalah pula salah satu tempat wisata di Jepara yang sangat terkenal, inilah tempat terbaik untuk merasakan pengalaman wisata laut di Jawa Tengah.

Taman Nasional Karimunjawa memiliki tipe ekosistem hutan hujan daratan rendah, padang lamun, algae, hutan pantai, hutan mangrove, dan terumbu karang. Pesona biota lautnya di antaranya adalah lebih dari 90 jenis karang keras, 242 jenis ikan hias, hingga 133 genera akuatik. Beberapa biota laut di Karimunjawa ini adalah biota yang dilindungi. Beberapa destinasi wisata di Indonesia yang mengagumkan seperti Karimunjawa ini dapat Anda temukan pula di kawasan wisata Bunaken dan Raja Ampat di Papua.
Ada banyak kegiatan wisata memikat yang dapat Anda lakukan di Karimunjawa. Karakteristik seluruh pantai di Karimunjawa memiliki hamparan pasir putih dengan garis pantai yang panjang, berjemur di bawah sinar matahari adalah salah satu kegiatan yang disukai banyak wisatawan.
Objek wisata Jepara ini menyuguhkan Anda berbagai olahraga air yang seru, menyelam, snorkeling, memancing, berenang, berjemur, atau menjelajahi lautnya yang jernih. Selain itu, berbagai keunikan budaya dan tradisi penduduk lokal di sana adalah objek interaksi sosial yang menarik selama kunjungan wisata Anda di tempat wisata Jepara yang satu ini.

 

2. Museum R.A. Kartini

Terletak di sebelah utara alun-alun kota Jepara, Anda akan begitu mudah mendapati salah satu tempat wisata di Jepara ini. Museum R.A. Kartini adalah objek wisata sejarah Jepara, menjadi tempat penyimpanan berbagai koleksi peninggalan RA Kartini, juga benda-benda peninggalan maupun foto- foto dari kakak kandungnya Drs. RMP. Sosrokartono, serta berbagai benda-benda purbakala periode abad ke-7 di era Ratu Shima. Ratu Shima adalah penguasa kerajaan Kalingga di daerah Keling Kabupaten Jepara pada masa itu.
Di museum RA. Kartini ini juga, Anda dapat menyaksikan kerangka ikan raksasa “Joko Tuo” sepanjang 16 m dan lebar 2 m dengan berat 6 ton. Ikan tersebut ditemukan pada tahun 1989 di Pulau Karimunjawa dalam keadaan mati, namun masih meninggalkan sisa-sisa daging.
Objek wisata Jepara yang satu ini adalah juga kekayaan wisata Jawa Tengah, dan terbuka untuk publik setiap hari, mulai dari pukul 8 pagi hingga 4 sore. Untuk dapat masuk, Anda harus membayar tiket masuk museum RA. Kartini sebesar Rp 2 ribu per orang, menjadi Rp 3 ribu di saat akhir pekan dan hari libur.

 

 

3. Benteng Portugis

Benteng Portugis di Jepara adalah sebuah cagar budaya yang dilindungi, memiliki panorama alam yang memikat dengan suguhan pemandangan bukit, panorama pantai, serta hamparan batuan sedimen yang menawan. Benteng Portugis ini dibangun di atas bukit batu yang berposisi di pinggir laut, di bagian utara benteng persis berhadapan dengan Pulau Mondoliko.
Di masa lampau, benteng ini memiliki peran strategis dalam mengontrol jalur pelayaran kapal dari Jepara ke Indonesia bagian timur dan sebaliknya. Benteng yang terletak di Desa Banyumanis, Kecamatan Donorojo ini menawarkan suguhan keindahan alam yang begitu disukai banyak kalangan penikmat perjalanan.


4. Pantai Kartini

nilah tempat wisata di Jepara yang paling menarik bagi destinasi wisata keluarga. Berbagai wahana permainan anak-anak (komedi putar, mandi bola, perahu arus), dermaga, dan aquarium kura-kura dapat ditemukan di pantai Jepara yang satu ini. Lokasi pantai ini begitu strategis, terletak di antara rute perjalanan wisata Taman laut Nasional Karimunjawa dan Pulau Panjang.

Pantai Kartini adalah pula pantai yang menjadi tempat bermain RA. Kartini semasa kecil bersama dengan saudara-saudarinya. Inilah sebab objek wisata di Jepara ini dinamakan sebagai Pantai Kartini untuk mengenang jasa pahlawan nasional Indonesia tersebut.
Untuk dapat masuk, Anda harus membayar tiket masuk Pantai Kartini sebesar Rp 3 ribu per orang, belum termasuk tiket kendaraan roda dua, bis, dan roda empat. Di akhir pekan dan hari libur, harga tiket masuk pantai menjadi Rp 5 ribu per orang.


5. Pantai Bandengan (Pantai Tirto Samudro)

Terletak di arah utara kota Jepara sejauh 7 km dari pusat kota, pantai Bandengan adalah sebuah pantai di Jepara dengan air yang begitu jernih dan bersih, memiliki hamparan pasir putih yang indah. Di kawasan pantai ini pula Anda dapat menikmati panorama sunset yang menawan.
Ada banyak kegiatan menarik yang dilakukan di Pantai Bandengan, di antaranya berkemah, volley pantai, hingga sepeda santai. Tempat wisata Jepara yang satu ini juga kerap dijadikan sebagai tempat ajang permainan motor cross serta pertunjukan festival layang-layang skala regional, nasional, maupun internasional.

 

 

6. Air Terjun Songgolangit

Objek wisata Jepara ini dinamakan sebagai “songgolangit” karena jika dilihat dari bawah, maka air terjun tersebut tampak seolah sedang menyangga horizon langit. Terletak di Desa Bucu, Kecamatan Kembang sejauh 30 km arah utara dari pusat kota Jepara, Air Terjun Songgolangit memiliki ketinggian 80 m dengan lebar 2 m.
Udara yang segar dengan panorama alam yang indah adalah daya tarik dari air terjun di Jepara ini. Di tempat ini pula, ada banyak kupu-kupu dengan warna-warni yang indah. Menurut kisah masyarakat setempat, konon air terjun ini ditunggui oleh sepasang suami isteri yang ikut menjaga kenyamanan para wisatawan untuk menikmati keindahan di kawasan air terjun, sebab para wisatawan adalah tamu yang perlu dihormati dan dijaga keamanannya dan kenyamananya.


 

7. Pulau Panjang

Pulau Panjang dikelilingi laut dangkal dengan dasar terumbu karang dengan pantai berpasir putih. Air laut di sebelah selatan dan barat pulau ini cukup jernih dan tidak berarus, sehingga merupakan tempat yang tepat berenang, snorkeling, dan bermain kano. Pulau seluas 19 ha ini dapat ditempuh dari dermaga di Pantai Kartini, dan hanya berjarak 2.5 km.
Mengelilingi pulau dengan berjalan menyusuri pantai atau menyusuri jalan (paving block) sambil menikmati pemandangan adalah kegiatan menarik lain yang sering dilakukan wisatawan.
Bagian tengah pulau ini adalah struktur hutan tropis dengan pohon-pohon besar dan tinggi menjulang diselingi perdu dan semak dan menjadi tempat bagi burung laut untuk bermalam dan berkembang biak. Untuk dapat sampai di tempat wisata Jepara yang satu ini, Anda harus membayar tiket perahu wisata yang akan mengantarkan Anda ke pulau sebesar Rp 12 ribu dari dermaga Pantai Kartini. Dan tiket masuk Pulau Panjang adalah sebesar Rp 3 rbu per orang, Anda memiliki waktu satu hari penuh untuk menikmati kawasan wisata Jepara yang satu ini.

 

 

8. Pantai Teluk Awur

Pantai yang berjarak sekitar 5 km dari pusat kota Jepara ini adalah salah satu objek wisata Jepara yang menarik. Cara paling populer dilakukan wisatawan untuk menikmati pantai ini adalah berenang dan bermain air laut.
Pantai Teluk Awur adalah destinasi wisata yang tidak dikenakan biaya apapun untuk masuk, alias gratis. Kondisi air laut yang bersih dan jernih serta tidak dilewati berbagai kapal dan perahu membuat pantai di Jepara yang satu ini disukai wisatawan sebagai destinasi untuk menghabiskan akhir pekan mereka.

Baca Selengkapnya ....

Sejarah asal usul Ratu Kalinyamat dan Sultan Hadlirin

Posted by jepara kopi 0 komentar

Jepara - Silsilah Ratu Kalinyamat

Sosok Ratu Kalinyamat dan Sultan Hadlirin memang tak asing bagi rakyat Jepara. Nah sekarang tahukah anda siapa Ratu Kalinyamat dan Sultan Hadlirin?  pertanyaan ini memang terdengar agak lucu tapi jika anda merasa orang jepara tapi tak tahu Sejarah Kota Jepara mungkin terdengar sangat lucu dan aneh ! nah berikut sejarahnya.
Ada beberapa versi cerita mengenai siapa sebenarnya Kanjeng Ratu Kalinyamat. Menurut babad tanah jawi edisi Meinsma, Ratu kalinyamat adalah seorang putri pangeran Trenggono dan cucu Raden patah, Sultan Demak yang pertama. Dari perkawinannya dengan putrid cina Cina, Raden patah mempunyai enam anak. Yang paling seorang putri, Ratu Mas kawin dengan pangeran Cirebon. Adik-adiknya berjumlah lima orang semunya laki-laki, masing-masing pangeran Sabrang Lor, Pangeran Sedo Lepen, Pangeran Trenggono, Raden Kanduruwan dan Raden Pamekas.
Siapa nama sebenarnya Kanjeng ratu kalinyamat ini , ada beberapa yang mencoba di hubungkan. Naskah Hikayat Hasanuddin dari banten menyebutnya dengan julukan Arya Jepara. Sumber lain menyebutkan ia bernama asli Ratu Kencana sementara juru kunci makam menuturkan bahwa nama aslinya ialah Raden Ayu Wuryani.

Kekuasaan Pemerintahan Sultan Hadlirin

Begitulsh akhirnya Raden Toyib diberi gelar Sultan Hadlirin dan menjadi adipati Jepara sekaligus merupakan pengampu putra mahkota Aria Pangiri yang belum dewasa. Penobatan tersebut kira-kira terjadi pada tahun 1536 dan tetap menjadikan Kalinyamat sebagai pusat pemerintahan. Kekuasaannya meliputi negeri Jepara, Pati, Rembang dan Juana.
Setelah penobatan suaminya lebih bersifat pendamping.saja. hampir semua urusan pemerintahan di serahkan kepada Sultan Hadlirin, bahkan Patih Cie Wie Gwan (ayah angkat sewaktu di Tiongkok) kini diundang oleh Sultan Hadlirin untuk dating ke Jepara, dan akhirnya diangkat sebagai patih kerajaan guna membantu pemerintahan Sultan Hadlirin.

Menikah Dengan Putri Sunan Kudus

Tahun demi tahun berlalu, pemerintahan Sultan Hadlirin dengan di dampingi oleh istrinya dengan gaya kepemimpinan yang adil dan bijaksana berjalan sangat maju dan pesat. Bahkan Bandar Jepara menjadi semakin ramai saja. Namun setelah lama perkawinannya dengan Ratu Kalinyamat Sultan Hadlirin belum jua di di beri momongan. Hingga Sultan mengambil anak dari Sultan Hasanuddin dari banten yang bernama Dewi Wuryan Retnowati sebagai anak angkatnya. Sayang putri angkatnya meninggal sebelum usia baligh. Perasaan Kanjeng Ratu sangat gelisah sepeninggal putri angkatnya karena sampai saat itu belum jua di kasih keturunan, hal itu beralasan kuat mengingat kekuasaannya sangat luas. Jika belum jua di kasih lantas siapa yang meneruskan ketahtaannya itu ? di dorong dengan kegelisahan tersebut Kanjeng Ratu berupaya mencari jalan keluar pemecahannya. Setelah berpikir-pikir lama akhirnya sultan di perbolehkan menikah lagi. Dan di putuskan sultan Hadlirin menikah dengan putrid sunan kudus bernama Raden Ayu Pridobinabar, perkawinan tersebut seakan-akan mengabungkan dua kekuasaan antara Jepara dan Kudus. Konon semua urusan berkaitan dengan pernikahan Sultan Hadlirin dengan Putri sunan Kudus di Urus oleh Kanjeng Ratu Kalinyamat .

Wafatnya Sultan Hadlirin

Ada dua penuturunan cerita tentang kematian Sultan Hadlirin meski kedua penuturunan itu menyatakan Arya Jipang atau Arya Penangsang yang membunuhlah Sultan Hadlirin.
Versi Pertama
Penuturan yang pertama mencoba menghubungkan pembunuhan dengan krisis perebutan tahta di Demak Bintoro. Sehingga dalam penyebab kematian tersebut bebrbau politik.
Ketika Demak terjadi krisis hebat dalam perebutan tahta kerajaan, konon kekuasaan Sultan semakin memuncak. Setelah Raden Patah meninggal yang disusul pula dengan Pangeran Sabrang Lor, Sultan Demak II, tahta kerajaan harusnya berpindah tangan ke adiknya yang paling tua yaitu Pangeran Seda Lepen. Namun ia harus juga meninggal setelah di bunuh oleh Sunan Prawoto yang nampaknya telah mengincar tahta kerajaan Demak. Karena pembunuhan tersebut tahta kerajaan jatuh ke tangan Pangeran Trenggana ayah Sunan Prawoto. Setelah Pangeran meninggal cita-cita Sunan Prawoto tercapai, ia menjadi pewaris tahta kerajaan Demak. Namun Arya Penangsang menjadi geram karena pembunuh ayahnya menjadi malah muncul sebagai Sultan Demak. Bahkan ia menuntut haknya sebagai pewaris kesultanan Demak yang sah. Maka Arya Penangsang menyuruh abdinya yang bernama Rangkut untuk membunuh Sunan Prawoto. Usaha tersebut berhasil, tapi kekuasaan dan kekayaan jatuh ketangan Sultan Hadlirin yang sekaligus mendapat hak menjadi pengampu Arya Pangiri, putra mahkota kerajaan Demak hingga dewasa. Hal itu bias terjadi karena istri Sultan Hadlirin adalah kakaknya Sunan Prawoto. Tentu saja Kanjeng Ratu Kalinyamat dan Sultan Hadlirin meminta keadilan atas perbuatan murid nya kepada Sunan Demak, Arya Penangsang. Tapi Sunan Kudus membenarkan perbuatan Arya Penangsang malah ia berkata “kakamu telah hutang pati pada Arya Penangsang oleh karenanya kakakmu bagaikan membayar hutang saja”. Kanjeng Ratu menjadi kecewa atas perkataan Sunan Kudus dan ia segera pulang bersama suaminya. Namun di tengah perjalanan itu ia dihadang oleh utusan Arya Penangsang yang memang di tugaskan untuk mencegatnya dan suaminya. Dalam pencegatan itulah akhirnya Sultan Hadlirin berhasil dibunuh oleh Arya Penangsang. Hal itu terjadi kira-kira tahun 1471 tahun Jawa atau 1549 M.
Versi Kedua
Sebuah penuturan hikayat menyatakan bahwa Sultan Hadlirin ikut andil dalam pembanguna masjid menara Kudus. Konon sebelum pembangunan masjid, Sunan Kudus mengumpulkan segenap keluarganya dan pembantunya, Sunan Kudus membagi tugas dalam permusywaratan ternyata Sultan mendapat tugas untuk membuat mihrab masjid. Segera diputuskan pula bahwa masjid harus jadi pada hari Jum’at Wage. Seluruh bagian-bagian masjid harus terkumpul, entah kenapa pada hari itu Sultan tidak hadir ke lokasi pendirian masjid. Sunan kudus masih bersabar ia berpikir barangkali ada urusan mendadak sehingga Sultan tak bias hadir. Singkat cerita setelah lama belum munculakhirnya tiba-tiba Sultan muncul. Tentu saja Sunan Mau memarahinya, malah ia langsung kebelakang masjid. Dalam hati Sunan Kudus merasa heran mau apa menantunya itu. Sunan terus mengamati ia semakin heran melihat sultan Hadlirin memunguti daun-daun pisang yang telah kering(jawa=klaras) dan mengikat dengan talu pada tiang-tiang yang dipancangkan pada tempat mihrab. Memdadak Sunan mendengar gelegar cambuk tiga kali, mendadak terkejut sebab yang tadinya hanya sekumpulan klaras yang di ikat telah berubah menjadi sebuah tembok yang kuat. Tanpa bertele Sultan pergi tanpa berpamitan dan langsung kembali ke Jepara. Segera sepeninggal Sulta tiba-tiba telah berdiri dengan megahnya. Tentu saja membuat perasaan Sunan menjadi marah dan geram ia mnendang mihrab itu, konon Sunan sampai terjengkang jengkang. Ia merasa Sultan pamer kesaktian di depannya. Ia merasa di remehkan dan di hina, akhirnya ia memanggil Arya Penangsang dan menuruh untuk membunuh Sultan Hadilrin. Padahal Arya Penangsang sendiri merasa takut dan gentar mengdapi Sultan Hadlirin. Maka ia memrintahka abdinya dan menyuruh untuk membunuh sultan dan langsung mengejar sultan. Setelah terkejar abdinya merasa gemetar untuk menghadapi sultan.Sultan merasa terkejut ada orang yang menghadangnya, ia bertanya apa sebenarnya yang di inginkannya, karena takut abdi itu berterus terang bahwa dia di utus untuk membunuh nya. Sungguh heran, Sultan Hadlirin tak sedikit pun marah. Bahkan seakan-akan ia sudah tahu ajalnya telah tiba. Ia menyuruh segera abdinya untuk melaksanakan tugasnya. Akhirnya sultan berhasil di bunuh.

Ratu kalinyamat Bertapa

Tahun inin adalah tahun yang berkabung. Betapa tidak dua orang yang dicintainya, suaminya kakaknya suami yang terkasih harus meninggalkan dia. Peristiwa tersebut membuat Kanjeng Ratu sangat tertekan dan nelangsa. Maka didoronglah oleh kesedihannya yang berat, ia bersumpah akan terus bertapa sampai Arya Penangsang terbunuh.
Dalam pertapaan Kanjeng ratu menjalankan tirakat “Topo Wudo” atau telanjang. Ini naskah ‘Babad Tanah Jawi’ yang dituturkan dalam rakitan tembang Pangkur yang sangat memikat.
“Nimas Ratu KalinyamatTilar pura mratapa aneng wukirTapa wuda sinjang rambutApane wukir DonorojoAprasapa nora tapih-tapihan angsunYen tan antuk adiling hyangPatine sedulur mani’Artinya :“Nimas Ratu KalinyamatMeninggalkan istana bertapa di gunungBartapa telanjang berkain rambutDi gunung DonorojoBersumpah tidak (akan) sekali-kaliMemakai pakain akuJika tidak memperoleh keadilan Tuhan(atas) meninggalnya saudaraku’
Ungkapan bahwa Ratu kalinyamat bertapa “dengan telanjang” dan berkain rambut haruslah di beri penafsiran dan di artikan apa adanya. Perkataan ‘wuda” dalam bahasa jawa tidah hanya telanjang. Akan tetapi bisa kiasan “tidak mengenakan perhiasaan yang bagus-bagus dan pakain yang indah-indah.
Kepergian Kanjeng Ratu membuat suasana geger keratin. Tak urung Adipati pajang, Prabu Hadiwijaya bersama Ki Pamahan dan Ki Panjawi melacak dan mencari kemana perginya Kanjeng Ratu Kalinyamat untuk bertapa. Sebenarnya keberadaan tempat pertapaan Kanjeng Ratu tidak jauh dari keratin hanya berjarak beberapa maeter kea rah timur dari pesanggrahan. Apalagi letaknya juga berada di pinggir sungai sehingga cocok untuk bertirakat. Tempat itu sampai sekarang di sebut dengan nama “Gilang” berasal dari kata gilang-gilang atau luas. Bahkan masih di temukan batu bekas alas Ratu untuk Sholat dan Wudlu. Adipati Hadiwijaya akhirnya menyusul ke tempat Pertapaannya Ratu dan membujuk Ratu untuk kembali ke keratin, namun tekad Ratu sudah bulat ia tak kan pulang sebelum Arya penangsang mati terbunuh. Bahkan Ratu berpindah tempat tapa ke Gunung Donorojo (Donoroso) kembali Adipati Hadiwijaya menyusul dan membujuk agar turun dari pertapaannya namun kembali Kanjeng ratu menolaknya. Dalam kesempatan itu Ratu meminta untuk membunuh Arya Penangsang aka tetapi Adipati Pajang menolak. Berkat desakan Ki Pamanahan dan Ki Panjawi Adipati Hadiwijaya mau melakukannyan.
Malam harinya bersama Ki Pamanahan, Ki panjawi dan Ki Juru Mertani berunding mangatur siasat. Akhirnya Adipati Hadiwijaya membuat sayembara “Barng siapa yang berani membunuh Arya Penangsang Sultan Pajang akan memberi hadiah negeri Pati dan Mataram. Tak seorang pun berani untuk menyanggupi maju melawan Arya Penangsang. Kemabali mereka berunding dan akhirnya diutuslah Danang Sutowijoyolah yang maju menghadapi Arya penangsang. Setelah strategi di rencanakan dengan matang berangkat lah Danang Sutowijoyo yang di bekali dengan tombak yang sakti bernama Kyai Pleret, bersama Ki Pamanahan, Ki Panjawi, Ki Juru Mertani serta kurang lebih 200 orang kea rah bengawan Caket dan bersiap menghadang Arya Penangsang.
Alkisah Ki Pamanhan mendekati penyabit rumput yang biasa memberi makan kuda-kuda milki Aryo Penangsang. Telinga penyabit rumput itu di potong dan sebuah surat tantangan di gantungkan pada bekas potongan telinga itu. Penyabit itupun dengan mengerang-erang krsakitan berlari kerumah tuannya. Setelah sampai di pintu gerbang istana Ki Mataun, Patih negeri Jipang terkejut. Ia membayangkan Gustinya pasti akan marah bila mengetahuinya. Karena itulah ia melarangnya menghadap Aryo penangsang.
Waktu itu Aryo Penangsang edang makan. Ia mendengar keributan di luar, ia memanggil Ki Mataun dan menanyai sebab keributan di luar. Sat itu juga Aryo Penangsang melihat abdinya berlumuran darah. Maksud dari surat itu adalah Jika benar-benar kamu laki-laki,ayo berperang tanding tanpa bala tentara menyeberanglah ke barat Bengawan aku tunggu sekarang”
Dengan tergesa-gesa dan muka yang merah Aryo Penangsang langsung menunggangi si Gagak Rimang(kuda kebanggannya). Maka langsunglah Aryo Penangsang langsung berangkat tanpa bala tentaranya. Setelah sampai di Bengawan Sore-Coket, konon masyarakat disitu beranggapan bila ingin berperang tapi melewati Bengawan Coket akan memui kesialan. Benar anggapan masyarakat itu terjadi setelah Gagak Rimang melihat kuda berwarna putih bersih mendadak timbl birahinya. Ia segera melonjak-lonjak tanpa bisa lagi dikendalikan oleh tuannya. Ketika ia masih berusaha mengendalikan kuda banal yang dibakar birahi tersebut, Danang Sutawijaya berhasil menikam Arya Penangsaang dengan kyai Pleretnya itu. Usus Arya pun terburai keluar, namun usaha tersebut nampaknya belum juga berhasil bahkan usunya yang terurai itu sisampirkan ke hulu kerisnya. Gagak Rimang memang banal ia terus mengejar kuda putih Danang Sutawijaya yang memang di bawa menjauh. Setelah berhasil mengejar Danang Sutawijaya ia bermaksud mencabut keris pusaka setan kober miliknya, ia betul-betul lupa bahwa ususnya masih menyangkut di hulu kerisnya. Maka terputuslah usunya yang terburai dengan bersamaan tercabutnya setan kober dari rangkanya. Maka tewaslah Aryo Penangsang dengan mengenaskan dan tragis.

Penobatan Ratu kalinyamat

Setelah kematian suminya yang menjadi Adipati Jepara tanpa meninggalkan putra yang menjadi penggantinya. Dan setelah selesai pertapaannya dinobatkanlah Kanjeng ratu Kalinyamat sebagai ratu di Jepara. Pentasbian ini terjadi dengan di tandainya Surya Sengkala : “Trus Karya Tataning Bumi” atau kira-kira tahun 1549 M dengan dugaan tanggal 12 Rabi’ulAwal.
Ratu Kalinyamat merupakan seorang kepala keperintahan yang cakap dan di segani. Bahkan sumber sejarah Portugis De Couto dalam bukunya yang terkenal “Da Asia” menyebutkan Ratu Kalinyamat “Rainha de jepara senhora ponderosa e rica”. Artinya Raja jepara, seorang perempuan yang kaya dan mempunyai kekuasaan besar. Kebesaran dan kehebatan kekuasaan Ratu Kalinyamat dapat di lihat dari serangan yang di lakukan ketika ia masih berkuasa. Pada tahun 1550 yang kemudian di ulanginya 1574 ia menyerang orang Portugis di Malaka.

Bedhahe Kalinyamat

Bagaimapun besar dan kuatnya Ratu Kalinyamat ia tetaplah manusia biasa yang tak luput dari takdir illahi. Ia adalah manusia biasa yang suatu saat harus kembali memenuhi panggilan Tuhanya. Sayangnya tahun berapa dank arena peristiwa apa kemangkatan Ratu ini tak di ketahui secara pasti. Tak ada sumber yang menyebutkan tak ada peningggalan yang dapat di buktikan. Bahkan karyaikarya tulisan Jawa pun tak satupun mencantumkanperistiwa ini. Ada sementara kemungkinan yang mengatakan bahwa Kanjeng ratu Kalinyamat baru saja meninggal tahun 1579 M. demikian juga dengan penerus kerajaan kalinyamat setelah kemangkatan beliau. Siapakah penggantinya? Bagaimana kepemimpinannya? Tak satupun sumber-sumber otentik yang menyebutkannya.
Sementara anggapan di kalangan para sejarawaan, bahwa kedudukan ratu Kalinyamat digantikan oleh sultan Hasanuddin dari Banten yang tergolong masih keponakan sekaligus sebagai anak anggkatnya. Menurut versi ini, anak angkat ini bergelar Pangeran Jepara. Sayang, pada masa pemerintahan Pangerang Jepara ini terjadi pemberontakan di Pajang oleh Mataram yang berakhir dengan kekalahan pihak Pajang. Sehinnga pemberontakan ini terjadi pada tahun 1578 mengakibatkan keruntuhan Kesultanan Pajang.
Dua belas tahun kemudian, tiba giliran Jepara di serang bala tentara Mataram. Agaknya kali ini Jepara keteteran membendung serangan Mataram yang dahsyat. Maka tak ayal lagi, Kerajaan Jepara bernasib serupa dengan Pajang. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1599 M yang meruntuhkan kekuasaan Kerajaan Kalinyamat yang di kenal dengan ssebutan Bedhahe Kalinyamat.

Sejarah dan Asal Usul Sultan Hadlirin

Sebenarnya Sultan Hadlirin bukan asli orang Jepara melainkan orang aceh.semasa kecilnya sultan Hadlirin bernama Raden Toyib. Beliau merupakan putra dari raja yang berkuasa di wilayah aceh yang bernama Syech Mukhayyat Syah. Raden Toyib memilki kakak bernama Raden Takyim. Perbedaan yang mencolok dari Raden Takyim dan Toyib adalah Raden Takyimsuka berfoya-foya, malas serta bermewah-mewahan sedangkan raden Toyib lebih memilih mempelajari ilmu-ilmu yang berhubungan dengan tata pemerintahan. Setelah Syech Mukhayyat syah merasa dirinya telah uzur dan lanjut usia beliau bermaksud mengankat Raden Toyib sebagai seorang sultan, karena kecakapannya dan ketekunananya mempelajari ilmu-ilmu pemerintahan meskipun yang lebih berhak menjadi sultan adalah kakaknya Raden Takyim.

Karena pengangkatan raden Toyib sebagai sultan menimbulkan konflik baru, maka ketika mengetahui masalah tersebut raden Toyib dengan suka rela menyerahkan tahtanya kepada raden Takyim, karena sebenarnya Raden Toyib tidak mementingkan jabatan seorang sultan hanya saja atas desakan ayahandanya beliau mau menerima jabatan itu.
Begitulah akhirnya raden Toyib pergi mengembara dengan bantuan kapal para pedagang ia berhasil keluar dan mengarungi lautan luas tanpa tujuan yang pasti, kecuali satu niat untuk menegmbangkan agama islam.
Konon beliau terdampar di daratan Tiongkok. Bahkan kebetulan sekali raden Toyib diangkat anak oleh seorang patih Tionghoa yang bernama Cie Wie Gwan. Karena loghatnya orang cina dibut namanya dengan Toyab.
Singkat cerita setelah 5 tahun tinggal di di rumah patih Cie Wie Gwan, Raden Toyib mengembara lagi. Akhirnya beliau terdampar di pelabuhan pesisir pantai utara yang bernama Bandar Jepara. Saat itu Bandar Jepara merupakan pelabuhan perdagangan yang sudah ramai. Sebab ia merupakan salah satu dari delapan buah kerajaan yang merdeka di Jawa dan Madura. Masing-masing Banten, Jakarta, Cirebon Prawoto, Kedu, Madura dan Kalinyamat.sehinnga Bandar jepara merupakan garis pelayaran dan perdagangan negeri malaka.
Konon untuk menyebarkan agama islam beliau menyamar dengan memakai pakaian ala kadarnya. Karena keramahannya dalam menyiarkan agama islam banyak orang tanpa terasa telah berubah keyakinannya dari agama Hindu Budha beralih kepada ke taukhid Islam yang bawa Raden Toyib.
Beberapa lamanya tinggal di Jepara tiba-tiba tanpa suatu alasan yang pasti Raden Toyib ingin mengbdikan dirinya ke kerajaan Kalinyamat yang menguasai Jepara saat itu. Setibanya di kraton kepada penjaga istana dengan terus terang Raden Toyib menyampaikan maksudnya ingin menghadap kanjeng Ratu kalinyamat. Permintaan tersebut di kabulkan dan akhirnya kanjeng Ratu Kalinyamat memberi pekerjaan sebagai tukang kebon.
Pada suatu hari kanjeng ratu berkenan memeriksa kerajaannya. Tiba-tiba hati kanjeng Ratu berdebar-debar beliau merasa raden Toyib bukan manusia biasa. Kangjeng Ratu langsung menyai asal-usulnya, Raden Toyib tidak mau mengaku ia langsung di masukkan ke dalam penjara. Entah mengapa Raden toyib mau menceritakan asal usulnya kepada kanjeng ratu. Hati kanjeng ratu menjadi berdebar-debar untuk kedua kalinya, kanjeng ingat ramalan mendiang ayahnya tentang jodohnya yang bukan bersal dari kalangan mayrakat pribumi Jawa melainkan negeri seberang.
Karena Raden Toyib adalah seorang anak muda yang gagah perkasa tampan rupawan, hati Ratu kalinyamat tak karuan hati wanita mana yang tak menolak raden Toyib. Ia merasa bukan mustahil Raden Toyib adalah jodohnya. Hingga akhirnya Ratu kalinyamat meminta Raden Toyibuntuk menikahinya. Setelah menikah Ratu Kainyamat menyerahkan tahtanya kepada suaminya Raden Toyib.

Baca Selengkapnya ....

Sejarah R.A Kartini

Posted by jepara kopi 0 komentar
– RA. Kartini adalah pahlawan nasional yang sangat berjasa dalam sejarah bangsa Indonesia khususnya kaum wanita. Dalam masa penjajahan Belanda yang sempat menduduki ibu pertiwi, kaum wanita pribumi dikesampingkan hak-hak dalam mendapatkan fasilitas pendidikan dan mengemukakan pendapat.
Namun itu hanya sekelumit dari sejarah hidup dari RA. Kartini. Lalu apa saja perjuangan hidup yang selama ini diusahakan oleh RA. Kartini? Berikut adalah sejarah singkatnya.

1

Biografi Singkat RA. Kartini

BAYI RA. KARTINI
Kartini lahir dari keluarga priyayi dan memiliki nama panjang Raden Adjeng Kartini. Ayahnya Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat adalah seorang patih yang diangkat menjadi bupati Jepara. Ibunya bernama M.A. Ngasirah adalah seorang guru agama di salah satu sekolah di Telukawur, Jepara.
Jika diurutkan dari asal usul silsilah maka keluarga Kartini yang dari ayahnya merupakan trah keturunan dari Sultan Hamengkubuwono IV. Keluarga Kartini masih keturunan Sosroningrat dari silsilah kerajaan Majapahit.


2
Awal Perjuangan RA. Kartini

Sejarah perjuangan RA. Kartini berawal saat beliau berumur 12 tahun. Saat itu beliau ingin melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi namun dilarang oleh orang tuanya.
RA. Kartini yang lulusan dari Europese Lagere School (ELS) sangat fasih dalam berbahasa Belanda sehingga beliau merasa sanggup mengikuti jenjang yang lebih tinggi dengan kemampuan tersebut.
Namun penjelasan itu tidak dihiraukan oleh ayahnya yang melarang RA.Kartini untuk mengejar cita-cita bersekolah. Alasannya tidak lain dan tidak bukan karena usia beliau yang sudah 12 tahun menandakan bahwa saatnya untuk dipingit dan segera menikah.
Saat itu beliau tidak punya pilihan lain selain ikut apa kata orang tuanya yang artinya RA. Kartini harus menjalani pingit.


3
RA, Kartini Dalam Masa Pingitan
 Selama dipingit itulah beliau menulis surat-surat kepada teman berkirim suratnya yang sebagian besar orang Belanda. Disitulah beliau kemudian mengenal Rosa Abendanon yang sangat mendukung perjuangan RA. Kartini untuk mendapatkan hak-hak sebagai manusia meski dia perempuan.
Semetara itu Rosa Abendanon juga sering mengirimkan buku-buku dan surat kabar dari Eropa pada RA. Kartini kecil sehingga pemikirannya menjadi lebih maju. Dalam surat kabar tersebut memberitakan wanita-wanita Eropa memiliki kedudukan yang sama untuk meraih hak-haknya sedangkan di Indonesia wanita berada pada strata sosial yang amat rendah.


4
Akhir Pingitan dan Awal dari Cita-cita RA. Kartini 
Pada saat RA. Kartini berusia 20 tahun beliau sudah menyelesaikan buku-buku seperti De Stille Kraacht milik Louis Coperus, Max Havelaar dan juga Surat-Surat Cinta yang ditulis Multatuli dan Van Eeden, Roman-feminis dari Goekoop de-Jong Van Beek dan Die Waffen Nieder mengenai Roman anti-perang oleh Berta Von Suttner. Buku-buku bertulisan belanda tersebut membuat beliau makin terbuka pikirannya dan semakin maju.
Kemudian pada tanggal 12 November 1903 pingitan berakhir dan beliau harus menikah dengan bupati Rembang bernama K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat atas pilihan orang tuanya. Saat itu RA. Kartini berstatus istri kedua bupati Rembang tersebut. Meski begitu suaminya sangat mendukung cita-cita beliau dan bahkan memperbolehkan RA. Kartini membangun sekolah khusus wanita.

5
Akhir Hayat dan Perjuangan yang Diteruskan

 Selama pernikahannya, RA. Kartini dikaruniai satu putra bernama Soesalit Djojoadhiningrat. RA. Kartini kemudian menghembuskan nafas terakhirnya empat hari setelah melahirkan. Beliau wafat pada usia 25 tahun.
Perjuangan RA. Kartini tidak terhenti bahkan setelah beliau wafat. Perjuangan tersebut diteruskan oleh sahabatnya Rosa Abendanon yang membukukan surat-surat keduanya menjadi sebuah buku.Buku itu diberi judul Door Duisternis tot Licht yang artinya “Dari Kegelapan Menuju Cahaya”.


6
Habis Gelap Terbitlah Terang

 

Buku Door Duisternis tot Licht buah pikiran RA. Kartini tersebut diterbitkan pada tahun 1911 dan disebarluaskan di eropa dan kemudian di Indonesia dalam bahasa Belanda. Pada tahun 1922 buku tersebut diterjemahkan dalam bahasa Melayu oleh Balai Pustaka. Buku terjemahan tersebut diberi judul “Habis Gelap Terbitlah Terang: Buah Pikiran”.
Selanjutnya pada tahun 1938, sastrawan Armijn Pane menerbitkan terjemahan dalam judul “Habis Gelap Terbitlah Terang” yang berisi lima bab cara berpikir RA. Kartini.

Baca Selengkapnya ....

Sejarah Kota Jepara

Posted by jepara kopi 0 komentar
Kabupaten Jepara, adalah salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Ibukotanya adalah Jepara. Kabupaten ini berbatasan dengan Laut Jawa di barat dan utara, Kabupaten Pati dan Kabupaten Kudus di timur, serta Kabupaten Demak di selatan. Wilayah Kabupaten Jepara juga meliputi Kepulauan Karimunjawa, yang berada di Laut


 ETIMOLOGI

Dulu ada orang yang sedang berjalan melewati Jepara melihat nelayan yang sedang membagi-bagi ikan hasil tangkapannya membagi dlm bahasa jawa adalah Para/Poro, maka pengembara tersebut menceritakan di kota tujuannya bahwa dia melewati Ujung Para karena dia melewati ujung pulau Jawa yang ada yang membagi ikan. lama-lama kata Ujung Para berubah ejaannya menjadi lebih singkat yaitu Jung Para, masyarakat pun lama kelamaan berubah menjadi Jumpara lalu berubah menjadi Japara dan ahirnya berubah menjadi Jepara. Orang Jawa menyebut menyebut nama Jepara menjadi Jeporo, dan orang Jawa yang menggunakan bahasa krama inggil menyebut Jepara menjadi Jepanten. Sedangkan nama Jepara di dalam sebutan bahasa Belanda: Yapara, Japare.

Sejarah 
Jauh sebelum adanya kerajaan-kerajaan ditanah jawa. Diujung sebelah utara pulau Jawa sudah ada sekelompok penduduk yang diyakini orang-orang itu berasal dari daerah Yunnan Selatan yang kala itu melakukan migrasi ke arah selatan. Jepara saat itu masih terpisah oleh selat Juwana.
Asal nama Jepara berasal dari perkataan Ujung Para, Ujung Mara dan Jumpara yang kemudian menjadi Jepara, yang berarti sebuah tempat pemukiman para pedagang yang berniaga ke berbagai daerah. Menurut buku “Sejarah Baru Dinasti Tang (618-906 M)” mencatat bahwa pada tahun 674 M seorang musafir Tionghoa bernama I-Tsing pernah mengunjungi negeri Holing atau Kaling atau Kalingga yang juga disebut Jawa atau Japa dan diyakini berlokasi di Keling, kawasan timur Jepara sekarang ini, serta dipimpin oleh seorang raja wanita bernama Ratu Shima yang dikenal sangat tegas.
Menurut seorang penulis Portugis bernama Tome Pires dalam bukunya “Suma Oriental”, Jepara baru dikenal pada abad ke-XV (1470 M) sebagai bandar perdagangan yang kecil yang baru dihuni oleh 90-100 orang dan dipimpin oleh Aryo Timur dan berada dibawah pemerintahan Demak. Kemudian Aryo Timur digantikan oleh putranya yang bernama Pati Unus (1507-1521). Pati Unus mencoba untuk membangun Jepara menjadi kota niaga.
Pati Unus dikenal sangat gigih melawan penjajahan Portugis di Malaka yang menjadi mata rantai perdagangan nusantara. Setelah Pati Unus wafat digantikan oleh ipar Faletehan /Fatahillah yang berkuasa (1521-1536). Kemudian pada tahun 1536 oleh penguasa Demak yaitu Sultan Trenggono, Jepara diserahkan kepada anak dan menantunya yaitu Ratu Retno Kencono dan Pangeran Hadlirin, suaminya. Namun setelah tewasnya Sultan Trenggono dalam Ekspedisi Militer di Panarukan Jawa Timur pada tahun 1546, timbulnya geger perebutan tahta kerajaan Demak yang berakhir dengan tewasnya Pangeran Hadlirin oleh Aryo Penangsang pada tahun 1549.
Kematian orang-orang yang dikasihi membuat Ratu Retno Kencono sangat berduka dan meninggalkan kehidupan istana untuk bertapa di bukit Danaraja. Setelah terbunuhnya Aryo Penangsang oleh Sutowijoyo, Ratu Retno Kencono bersedia turun dari pertapaan dan dilantik menjadi penguasa Jepara dengan gelar NIMAS RATU KALINYAMAT.
Pada masa pemerintahan Ratu Kalinyamat (1549-1579), Jepara berkembang pesat menjadi Bandar Niaga utama di Pulau Jawa, yang melayani eksport import. Disamping itu juga menjadi Pangkalan Angkatan Laut yang telah dirintis sejak masa Kerajaan Demak.
Sebagai seorang penguasa Jepara, yang gemah ripah loh jinawi karena keberadaan Jepara kala itu sebagai Bandar Niaga yang ramai, Ratu Kalinyamat dikenal mempunyai jiwa patriotisme anti penjajahan. Hal ini dibuktikan dengan pengiriman armada perangnya ke Malaka guna menggempur Portugis pada tahun 1551 dan tahun 1574. Adalah tidak berlebihan jika orang Portugis saat itu menyebut sang Ratu sebagai RAINHA DE JEPARA”SENORA DE RICA, yang artinya Raja Jepara seorang wanita yang sangat berkuasa dan kaya raya.
Serangan sang Ratu yang gagah berani ini melibatkan hamper 40 buah kapal yang berisikan lebih kurang 5.000 orang prajurit. Namun serangan ini gagal, ketika prajurit Kalinyamat ini melakukan serangan darat dalam upaya mengepung benteng pertahanan Portugis di Malaka, tentara Portugis dengan persenjataan lengkap berhasil mematahkan kepungan tentara Kalinyamat.
Namun semangat Patriotisme sang Ratu tidak pernah luntur dan gentar menghadapi penjajah bangsa Portugis, yang di abad 16 itu sedang dalam puncak kejayaan dan diakui sebagai bangsa pemberani di Dunia.
Dua puluh empat tahun kemudian atau tepatnya Oktober 1574, sang Ratu Kalinyamat mengirimkan armada militernya yang lebih besar di Malaka. Ekspedisi militer kedua ini melibatkan 300 buah kapal diantaranya 80 buah kapal jung besar berawak 15.000 orang prajurit pilihan. Pengiriman armada militer kedua ini di pimpin oleh panglima terpenting dalam kerajaan yang disebut orang Portugis sebagai “QUILIMO”.
Walaupun akhirnya perang kedua ini yang berlangsung berbulan-bulan tentara Kalinyamat juga tidak berhasil mengusir Portugis dari Malaka, namun telah membuat Portugis takut dan jera berhadapan dengan Raja Jepara ini, terbukti dengan bebasnya Pulau Jawa dari Penjajahan Portugis di abad 16 itu.
Sebagai peninggalan sejarah dari perang besar antara Jepara dan Portugis, sampai sekarang masih terdapat di Malaka komplek kuburan yang di sebut sebagai Makam Tentara Jawa. Selain itu tokoh Ratu Kalinyamat ini juga sangat berjasa dalam membudayakan SENI UKIR yang sekarang ini jadi andalan utama ekonomi Jepara yaitu perpaduan seni ukir Majapahit dengan seni ukir Patih Badarduwung yang berasal dari Negeri Cina.
Menurut catatan sejarah Ratu Kalinyamat wafat pada tahun 1579 dan dimakamkan di desa Mantingan Jepara, di sebelah makam suaminya Pangeran Hadlirin. Mengacu pada semua aspek positif yang telah dibuktikan oleh Ratu Kalinyamat sehingga Jepara menjadi negeri yang makmur, kuat dan mashur maka penetapan Hari Jadi Jepara yang mengambil waktu beliau dinobatkan sebagai penguasa Jepara atau yang bertepatan dengan tanggal 10 April 1549 ini telah ditandai dengan Candra Sengkala TRUS KARYA TATANING BUMI atau terus bekerja keras membangun daerah.
Untuk Tahun 2010 ini, Jepara telah mendapatkan sertifikasi Indikasi Geografis terhadap produk Ukirnya yang sangat khas

Kerajaan

di Jepara terdapat beberapa Kerajaan pada masanya, yaitu:
  • Kerajaan Kalingga
  • Kerajaan Kalinyamat

    Legenda

  • Suronggotho
  • Patak Warak
  • Rara Ayu Mas Semangkin
  • Julukan Jepara

  • Jepara Kota Ukir
Pada zaman Kerajaan Kalinyamat yang dipimpin Sultan Hadlirin ayah angkatnya yang berasal dari Cina mengukir batu yang dia bawa dari Cina untuk di letakan di Masjid Mantingan. Lalu dia mengajarkan cara mengukir yang indah kepada warga Jepara sampai sekarang. maka Jepara di Juluki Kota Ukir.
  • Jepara Bumi Kartini
Jepara adalah kota dilahirkanya pahlawan nasional R.A. Kartini, maka Jepara di juluki Bumi Kartini.
  • Jepara Kota Energi 
Slogan R.A Kartini Habis Gelap Terbitlah Terang hal tersebut terealisasikan oleh pemerintah kabupaten Jepara dengan adanya 4 PLTU di Jepara, yang menjadi pemasok listrik Jawa, Bali, Madura. Oleh karena itu Bibit Waluyo (Gubernur Jawa Tengah) secara resmi memberi julukan KOTA ENERGI kepada kota Jepara.
  • Jepara Kota Fashion
Di Jepara banyak ditemukan beberapa produk fashion seperti: Tenun Ikat di Troso, Konveksi Baju di Sendang, Konveksi Celana di Bandungrejo, Konveksi Kerudung di Pendosawalan, Konveksi Bordir di Nalumsari, Perhiasan Monel di Kriyan, Perhiasan Emas di Margoyoso. Produk fashion Jepara telah membanjiri Pasar Semarang, Surabaya, Bali, Jakarta, Palembang, dll.
  • Jepara Kota Kerajinan/ Kota Seni
Banyak seni kerajinan di Jepara seperti seni ukir, sini, patung, seni relief, seni monel, seni emasan, seni gerabah, seni rotan, seni anyaman bambu, seni macan kurung, dll. Oleh karena itu Jepara di juluki Kota Kerajinan.
  • Jepara Kota 1000 Ponpes 
Pondok Pesantren sangat banyak di Rembang, tetapi di Jepara terdapat Pondok Pesantren 2x lipat jumlah pondok pesantren di Kabupaten Rembang. Oleh karena itu Jepara di kenal sebagai Kota Seribu Pondok Pesantren.
  • The World Carving Center 
Jepara berhasil membuat Rekor MURI sekaligus Rekor Dunia dalam bidang mengukir kayu bersama terbanyak di dunia. Maka Jepara resmi menyandang gelar The World Carving Center.
  • Jepara The Beauty of Java
Berkali-kali Jepara mendapat Adipura di karenakan kota Jepara begitu bersih. Selain itu Jepara sangat indah, dari pantai, pulau, hingga pegunungannya.
  • Caribbean van Java
Keindahan Kepulauan Karimunjawa keindahanya seperti di Karibia. Karimunjawa mempunyai kesamaan lain dengan Karibia yaitu terdiri dari beberapa pulau kecil, oleh karena itu belanda memberi julukan sebagai Caribbean van Java.
  • Scheveningen van Java
Menjelang kenaikan kelas di saat liburan pertama,NY. OVINK SOERdan suaminya mengajak R.A. Kartini beserta adik-adiknya Roekmini dan Kardinah menikmati keindahan pantai bandengan yang letaknya 7 kmke Utara Kota Jepara, yaitu sebuah pantai yang indah dengan hamparan pasir putih yang memukausebagaimana yang sering digambarkan lewat surat-suratnya kepada temannya Stella di negeri Belanda. RA Kartini dan kedua adiknya mengikuti Ny. Ovink Soer mencari kerang sambil berkejaran menghindariombak, kepada RA Kartini ditanyakan apa nama pantai tersebut dan dijawab dengan singkat yaitu Pantai Bandengan.Kemudian Ny. Ovink Soer mengatakan bahwa di Holland pun ada sebuah pantai yang hampir sama dengan bandengan namanya Klein Scheveningen secara spontan mendengar itu RA Kartini menyela kalau begitu kita sebut saja Pantai Bandengan ini dengan nama Klein Scheveningen

Seni Budaya

Di kabupaten Jepara terdapat berbagai jenis kesenian, yaitu:
  • Tari Kridhajati
  • Tari Tayub
  • Tari Emprak
  • Samroh
  • Gambus
  • Angguk
  • Dagelan
  • Kentrung
  • Ludruk
  • Ketropak
  • Keroncong
  • Prasah
Jenis kesenian tradisional Samroh, Gambus, dan Angguk, semuanya bernafaskan Islam. Jenis kesenian tradisional lainnya adalah dagelan, emprak, ketropak, ludruk, kentrung, keroncong,dan prasah. Melalui beberapa kesenian tradisional ini, pemerintah menggunakannya untuk menyampaikan pesan kepada masyarakat misalnya mengenai pembangunan dan keluarga berencana.

Wisata Religi (Ziarah)

  • Cirosomo (Makam Para Adipati/Bupati yang pernah memimpin Jepara dan keluarga besar R.A Kartini), di Sendang
  • Makam Sultan Hadiri (Sunan Hadirin) dan Ratu Kalinyamat serta Raden Abdul Jalil (Sunan Jepara), di Mantingan
  • Makam Syeh Siti Jenar, di Kelet
  • Makam Habib Sodiq (Yek Nde) dan KH Noor Ahmad SS, di Kriyan
  • Makam Mbah Roboyo, di Robayan
  • Makam Datuk Gunardi, di Singorojo
  • Makam Habib Ali, di Mayong
  • Makam Ronggo Kusumo, di Manyargading
  • Makam Syeh Abu Bakar, di Pulau Panjang
  • Makam Pangeran Syarif dan Mbah Jenggolo, di Saripan
  • Makam Ki Gede, di Bangsri
  • Makam Syeh Amir Hasan (Sunan Nyamplungan), di Karimunjawa
  • Makam Mbah Pakisaji, di Potroyudan
  • Makam Assayyid Thoyyib Thohir dan Syaikh Syamsuri, di (Penagon, Nalumsari, Jepara)
  • Makam Mbah Datuk Subuh, di Sidigede

Baca Selengkapnya ....

Seni kerajinan monel jepara

Posted by jepara kopi 0 komentar
Berbicara tentang Kota Jepara, kabupaten yang terletak di pesisir utara pulau jawa ini selain mendapatkan predikat sebagai Kota Ukir, Jepara juga dijuluki sebagai Kota Kerajinan. Wajar saja, pasalnya beberapa desa di Jepara dikenal sebagai sentra penghasil kerajinan seperti tenun ikat, monel, anyaman rotan, roti dan kue, serta mainan anak-anak.

Di antara hasil kerajinan tersebut, seni kerajinan monel Jepara sudah dikenal di pasar dalam negeri.  Jika di Desa Celuk Kecamatan Sukawati Kabupaten Gianyar Bali dikenal sebagai penghasil kerajinan perak, di Bumi Kartini, Desa Kriyan Kecamatan Kalinyamatan Kabupaten Jepara dikenal sebagai sentra kerajinan perhiasan monel.

Sejak tahun 1988 Desa Kriyan dinobatkan sebagai pusat monel oleh pemerintah Kabupaten Jepara. Tapi saat itu belum ada satupun toko monel. Dulu yang banyak pengrajin rumahan, tapi sekarang toko monel sudah banyak. Sebagian besar masyarakat Desa Kriyan berprofesi sebagai pengrajin perhiasan monel. Seperti cincin, gelang, kalung, bros, dan beragam aksesoris lainnya.

Harga jual aksesoris perhiasan monel ini sangat berfareatif, mulai dari puluhan sampai ratusan ribu tergantung kemudahan dan kerumitan serta jenis desain yang dibuat. Anda bisa membeli secara ecer atau grosir.

Bagi wisatawan yang hendak mengunjungi sentra kerajinan monel Jepara untuk melihat hasil kerajinan monel, seperti aksesoris yang dapat dijadikan buah tangan tak perlu pusing mencari lokasinya. Sentra kerajinan seni monel Jepara berada di jalur provinsi penghubung Kabupaten Jepara dengan Kabupaten Kudus dan Kota Semarang. Tepatnya di Jl. Goa Kencana, Desa Kriyan Kecamatan Kalinyamatan
























Baca Selengkapnya ....

Kerajinan seni patung kayu jepara

Posted by jepara kopi 0 komentar
Di kota Jepara terdapat sebuah sentra kerajinan ukir dan patung yang merupakan produk unggulan Jepara
Mulai dari patung, aneka dekorasi ukir, maupun dekorasi dari kayu utuh. Semua adalah karya seni asli masyarakat Jepara yang telah terkenal kerajinan kayunya sejak abad 18. Reputasi kami telah mendunia jauh sebelum Indonesia merdeka.








































































Baca Selengkapnya ....

Kerajinan kain tenun jepara

Posted by jepara kopi 0 komentar
Di Kabupaten Jepara terdapat sentra industri kerajinan tenun ikat yang namanya diambil dari nama desa setempat yaitu TROSO
Di tengah semakin beragamnya produksi tekstil oleh industri modern dengan aneka bahan, kain yang dibuat secara hand made ternyata masih laku hingga hari ini begitu pula kain troso jepara. Tentu ada nilai lebih hingga menjadikan tenun masih terus dicari para penggemarnya sma halnya penggemar kain troso. Kain troso kain ikat yang mempunyai daya tarik yang sangat menawan sehingga pasti diminati oleh berbagai kalangan.
Di Kabupaten Jepara terdapat sentra industri kerajinan tenun ikat yang namanya mengambil nama desa tempat sentra ini berada. Namanya kain tenun troso. Disebut troso karena pengrajinnya membuka bisnis di Desa Troso. Sudah puluhan tahun industri kerajinan ini beroperasi, dengan mengalami masa pasang-surut lazimnya sebuah entitas bisnis.
Pada era 1980-an, rocker (almarhum) Gito Rollies menyelipkan kata lurik pada lirik lagu. Penyelipan kata lurik, yang menjadi salah satu model tenun buatan pengrajin Troso, menandakan keterkenalan tenun ikat ini kala itu. Di kalan itu memang ada kewajibab PNS di Jawa Tengah mengenakan pakaian motif lurik tenun troso jepara.
Namun setelah lurik tidak lagi menjadi pakaian wajib PNS, ternyata eksistensi para pengrajin tenun ikat di Desa Troso masih ada. Para pengrajin berhasil menyesuaikan produknya dengan tuntutan konsumen dari zaman ke zaman. Para pengrajin tenun ikat kini juga bisa memproduksi kain serat nanas, yang menawarkan eksotisme dan eksklusivisme bagi pemakainya.
Selain memproduksi kain untuk bahan pakaian, pengrajin tenun ikat troso juga membuat kain untuk pelengkap rumah tangga, seperti sprai, alas meja, bed cover, tirai jendela, keset, dan lainnya. Produknya bukan hanya untuk melayani konsumen Jawa Tengah, melainkan telah merambah Jakarta, Bali, Lombok. Bahkan sudah diekspor ke Malaysia dan Singapura.
Sentra tenun ikat di Desa Troso ini sebenarnya juga berpotensi dikembangkan menjadi desa wisata dengan selling point aktivitas para pengrajin yang menggerakkan alat tenun bukan mesin (ATBM) setiap saat. Suara gemelatuk ATBM yang bersahutan merupakan sensasi unik yang bisa dinikmati wisatawan. Lokasi Desa Troso yang sejurus dengan kota Jepara, Pantai Kartini, dan objek wisata lain memudahkan untuk membuat paket wisata terintegrasi dalam sebuah paket turisme, dan selamat datang ke Desa Wisata Troso Jepara.

Baca Selengkapnya ....

Another Test Footer

Sms gratis

Supported by Kopi jepara

Test Footer

Home | Copyright of KOPI JEPARA.
Terimakasih atas kunjungan anda... Semoga artikel di blog ini bisa memberi manfa'at kepada anda.! ×